My concern due our educational system; The Graduation Speech
i was angry back there with what happened on my school for a couple weeks. i was furious. i bursted out and i snapped. simply said i wrote this for my lovely school in order to understand what’s going on inside of my mind at that time (and probably till now inside of all students in the last grade). But then i realised (after i was sober from my snapped) i have no gut giving this to my teacher but at the same time i also have the urge to tell everyone what are my thoughts about indonesia education system. so just incase i know i’ve been abandoning this tumblr like for more than a year so here it is my writing, i was not mean to offend anyone if there are some unpleasant words that may’ve hurt you. this is just my thoughts:
Dalam tiga tahun saya merasa saya belajar banyak hal. Tentang betapa kuat suara anak muda harus di suarakan. Betapa pintar guru guru kami mengajar kami, sampai kami tau bahwa kami sadar telah dibohongi oleh sistim. Guru adalah alat pembodohan. Guru adalah alat sistim untuk mebuat kita menjadi robot. Guru sebagai objek bukan dalam kata subjek. Guru dalam subjek memberontak inginkan lepas dari selimut sistim. Guru sebagai subjek tau muridnya seperti apa. Bukan sistim. Tapi guru yang memblot menghasilkan siswa yang malah tidak diterima dalam lingkup negara ini. Di anggap bodoh, tak bermoral, tak berotak.
Dalam tiga tahun saya bersekolah disini saya belajar bahwa semua teman disini hanyalah fana. Mereka yang akan lupa pada kenangan tiga tahun ini akan pergi tanpa jejak melupakan semuanya
Mereka yang akan tak ingat pada kita sampai mereka cek followers twitter ato tag facebook
Mereka yang tak sempat mengingat sampai suatu saat mereka nganggur dan buka buku tahunan
Dalam tiga tahun terakhir saya belajar disini saya merasa dilahirkan menjadi robot. Apa saya sebenarnya robot? Apakah ini kehidupan robot? Apakah saya bereinkarnasi menjadi robot? 
Selama tiga tahun belajar disini saya merasa kepintaran saya bertambah. Apakah ini artinya RAM saya baru di tambah? Atau baru ganti processor jadi i7? Saya merasa kemampuan grafik saya bertambah. Saya merasa inteligensi saya bertambah. Saya merasa kemampuan office saya bertambah.
Tapi sebagai komputer pintar. Saya ingin memberi command pada anda para user. Sebuah macintosh dilahirkan tanpa applikasi paint atau paintball. Begitu pula dengan windows and linux. Mereka dilahirkan tanpa adanya iphoto atau photobooth. Sebuah macintosh dapat diinstall windows tapi apa gunanya dan ekslusifnya macintosh ketika ia dipasang windows? Apagunanya paint di macintosh ketika ia punya adobe atau corel. Tingkat grafisnya lebih tinggi. Mampu jalan di i3.
Apa gunanya pula sebuah windows dengan photobooth dan iphoto? User windows akan memilih untuk memakai ms office ketimbang applikasi grafis keluaran macintosh. 
Dari selama saya berbicara disini. Ada yang tau apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah kami para siswa dan pelajar teladan ini terlahir dengan bakatnya sendiri sendiri. Kami bak komputer baru jadi keluaran pabrik. Tapi tiap tiap dari kami sudah di design oleh tuhan. Apakah os kamu mac, windows, atau linux?
Kalian orang tua dan guru adalah it kami. User kami adalah masyarakat. Kalian install kami dengan segala aplikasi yang tersedia di app store, playstore ato google store
Kami punya kapasitas. Kapasitas kami punya.
Kalau kalian semua punya telfon seluler dan saya yakin kalian punya. Kalau terlalu banyak app akan ngehang, panas, rusak. Itu kami sekarang. Overload.
Tapi sekarang. Hari ini. Kami bebas. Hari kelulusan. Hari dimana kita benar” dapat memilih mau jadi komputer pintar seperti apa. Dan saya bicara pada komputer komputer pintar lainnya yang duduk di hadapan saya
Kalian terlahir manusia. Hidup berjuang manusia. Kalian akan mati manusia! Hari ini adalah reinkarnasi kalian kembali menjadi manusia! Rasakan daging kalian darah kalian mengalir. Rasakan hangatnya pelukan teman sebelahmu. Rasakan haru sesak nafas didada karena ingat kalian punya perasaan. Kalian punya rasa sayang. Kalian punya rasa kangen. Kalian punya rasa. Karena kalian manusia. 
Komputer sepintar karen si istri plankton takan bisa berperasaan. Se jenius apapun creatornya. Komputer akan selalu menjadi komputer pintar segala yang tak berperasaan. Tapi apakah kalian merasakan panas di dada kalian meningat kalian akan berpisah dengan sahabat sahabat kalian? Sahabat yang telah tiga tahun menjalani karantina menjadi robot bersama?  
Teman yang selalu ada ketika kalian lelah dengan pelatihan robot pintar. 
Teman yang akan kalian rindukan ketika melihat followers di twitter ato foto di facebook. 
Teman yang akan membuat air matamu atau tawamu pecah ketika sedang santai membaca buku tahunan. 
Teman yang ada ketika rokok pertamamu dibakar
Teman yang ada ketika mushroom di bali
Teman yang ada ketika porak
Teman yang ada ketika kalian jatuh stress dan down mau US
Dan teman yang sekarang ada di sini semua. Teman yang ada disebelah kalian
Sejatinya kita akan selalu ingat hari ini. Dimana kita ingat kita pernah lupa untuk ingat. Karena teman teman sekalian. Kita manusia. Bukan robot atau komputer pintar ciptaan sistim bodoh paroksial ini.
Masih ada beberapa hari sebelum SBMPTN. Jadilah manusia. Belajarlah manusiawi. Karena kalian manusia. Bukan robot. Jadilah manusia seutuhnya. Bukan manusia yang merobotkan dirinya sendiri.
Terima kasih

Tanda Koma - Indonesia Satu from Aliya Alifadrianti on Vimeo.

Siang itu di Balai Kota Bandung sekelompok mudi muda membicarakan tentang pemilu, sayangnya salah satu dari mereka lebih memilih untuk golput.

“Emang ngapain sih pemilu, emang bakalan bisa ngerubah nasib kita?” ujar Jaka penuh ragu.

Mendengar ucapan Jaka teman-temannya langsung memberi alasan untuk tidak golput. Apakah bujukan mereka mampu membuat Jaka tidak golput? Ayo kita simak ceritanya

Starring:
Tandakoma; Volunter Batch V Bandung

Music by: Tandakoma ft Aldy Irfan of Bandung Beatbox
Director: Aliya Alifadrianti
Cameramen: Pandu Gunarso & Aditya Ramelan

this is my last shot of the day. i didnt get the time to took the Trio Lestari’s all up in stage. I’m so sorry

this is my last shot of the day. i didnt get the time to took the Trio Lestari’s all up in stage. I’m so sorry

smile
say hello to mr.Sandi Sandoro

say hello to mr.Sandi Sandoro

feel it